Sabtu, 17 April 2021

Where is the love

Pov 

Selama hidup hampir 22 tahun aku hanya dua kali dekat dengan pria untuk menjadi pasangan kekasih aku lupa rasa itu seperti apa yang terpenting jatuh cinta saat itu menyenangkan. 

Aku sangat berterimakasih kepada seseorang yang menjadi cinta pertamaku saat itu dia yang mengenalkanku tentang cinta, tentang gombalan recehnya, tentang aku yang tersipu malu, tentang aku yang semangat saat ke sekolah, tentang aku yang melanggar peraturan rumah tapi maaf cerita kita harus kandas.

Selanjutnya aku menemukan pria baik dikampusku kita satu fakultas dan satu jurusan dia yang mengobati luka hati ku yang menganga dengan segala perhatian yang ia berikan luka tersebut sedikit demi sedikit terobati. Namun sekali lagi luka tersebut memar kembali bahkan kali ini luka tersebut semakin parah. 

Dan akhirnya aku memutuskan sendiri menjadi diri ku seperti semula yang penuh antusias dan energik aku ingin sukses, sukses yang sesuai defenisi yang aku buat sendiri. Aku belajar banyak hal, membangun hubungan dengan banyak orang, berkarya, berkelana dan hidupku pun berubah aura positiv nya memancar aku sangat mencintai diriku saat teman-teman seusiaku sudah menikah dan bahkan memaksa untuk menikah aku masih dengan pikiraku yang belum tertarik untuk menikah. 

Begitu banyak laki-laki yang mendekatiku tapi aku merasa mereka tidak tulus atau aku yang masih terbayag tentang masa lalu? Aku bisa membangun hubungan relasi tapi tak bisa membangun relasi percintaan ku sendiri dan pada akhirnya aku memutuskan main app dating dan aku menemukan dia sosok laki-laki yang tidak bisa aku defenisikan aku menyukainya aku menyayanginya tapi aku takut apakah ini rasa yang terlalu menifestasi atau kebohongan yang aku ciptakan sendiri? 

Aku juga sering bertanya tanya kepada diri ku sendiri mengapa bisa aku mencintainya? Tapi aku tak kunjung menemukan jawabannya karena bagiku aku menyayanginya dan aku tak butuh alasan. Memang aneh aku mencintai seseorang yang aku sendiri tidak mengenalinya tapi aku bisa menangis karenanya, aku mencintainya tapi aku tak pernah bisa mengapainya, ya dia misterius semisterius planet pluto yang nun jauh disana. 

Aku sering memanggil nya abang percayalah bang nada suara ku saat memanggil mu hanya kau yang memilikinya terimkasih telah menjadi tuan di kehaluanku terimakasih di pertemuan pertama kita jujur saja aku yang tidak pernah grogi sebelumnya setelah melihatmu aku bahka tidak bisa menetralkan detak jantungku terimakasih es krim yang kau berikan aku masih hapal merek nya hehe. Bang aku pernah menangis karenamu aku pernah bingung dengan suasana hatiku. 

Aku tau kau telah melakukan sesuatu yang tidak wajar tapi mengapa kepala ku selalu terus memikirkanmu seharusnya aku kecewa seharus nya aku menghilang seharusnya aku tidak mengenalmu lagi seharusnya aku tidak menhubungimu lagi begitu banyak kata seharusnya yang aku langgar begitu saja bahkan hingga saat ini aku masih mengejarmu walaupun aku tau yang ku kejar hanyalah kesiasiaan. 

Aku juga ingin tahu bagaimana cerita dari sudut pandangmu tapi aku ini siapa haha hanya figuran yang tak sengaja singgah didalam ceritamu. 

ceritnya clara
x

Minggu, 03 September 2017

Perihal Kamu

Ini perihal kamu
yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku,
yang menjadi alasanku tersipu malu,
yang selalu membuat hatiku berbunga melulu.

Ini perihal kamu
yang selalu nyata dan ada di sisiku,
yang tak pernah paham bahwa aku mencandu senyummu,
yang barang sedetikpun tak henti kurindu.

Ini perihal kamu
yang menambah warna dalam hari-hariku,
yang tak henti-hentinya ada dalam pikiranku,
yang menimbulkan semburat merah jambu di pipiku.

Ini perihal kamu
yang menabur tanya pada gembur harapku,
yang menjadi pinta dalam doaku,
yang menimbulkan sepucuk keinginan memiliki dalam hatiku.

Ini perihal kamu
yang ialah bahagiaku,
tapi bukan milikku.

—R.A.C

==========

@SebuahRasa

Sabtu, 02 September 2017

TENTANG KITA BUKAN DIA

Ini tentang kita; dua insan yang merajut asa dan memupuk rasa. Duduk berdua di bangku taman kota bertemankan dian, dan tak lupa secangkir kopi dan teh di masing-masing tangan.

Memandangi manggala di seberang sebuah tripleks, refleksimu merupa cermin konveks. Wijaya aroma kedua cangkir kita menguap hingga ke sanubari, lantas kita berdua tersenyum sendiri. Aksara belum mampu bertakhta, tetapi bahumu telah memberi isyarat sebagai penyangga.

Luka-luka yang kerap menganga di dada kini lupus bersama dengan tawa-tawa yang tercipta antara kita. Sedih-sedih yang terseduh dalam pedih, kini mendidihkan bahagia-bahagia yang bernama kita.

Untuk sejenak, kita memasuki momentum yang tiada tara. Sama seperti dulu, saat masih eksis tabularasa. Kini telah pupus sengsara, kini telah tumbuh sukacita. Merengkuh kapas jenjam, kita saling menarik praduga masing-masing, berharap membalut lebam. Seakan kondisi trans ini melampaui kodrat semesta, seakan ada dua insan yang tereinkarnasi setelah melintasi roda moksa.

Untuk sejenak, kita tinggalkan segala luka. Bermain bersama aksara nyata yang menghadrikan nama-nama bahagia. Menuliskan puisi-puisi pada malam yang bertemakan kita. Melampaui semesta agar tercipta dua nama yang terngiang di telinga.

harapku hanya kita tampa ada dia



Hidup untuk hari ini, sejenak saja, tanpa menghiraukan rongrongan masa lalu dan delikan masa depan. Biarkan manis dan pahit menjelma sintesa yang sempurna pada kulminasinya. Lihatlah dalam cangkir kita; refleksi kita yang mencolok, buram, dan penuh luka. Sebelanga cerca dan inca-binca telah mencakar kita bertubi-tubi; pada akhirnya, kita merasa kekurangan sesuatu. Kita dahulu mungkin hanya orang dewasa yang melindungi anak kecil dalam diri kita. Sekali lagi, kalbuku bagai terangkat ke atas dirgantara, sebab kaulah perantara.

Dalam diam, dua aroma ini mengulurkan sulur menuju kedua hati yang berdebu, seraya memberi konklusi pada kita bahwa manis dan pahit akan selalu bersisian dalam segala kesempatan. Membuat kita paham arti hidup sebenarnya; seperti menerima keadaan dan ketiadaan. Pada momen itu, tanpa sadar, kedua sulur perasaan kita saling menjalin ikatan; agaknya memberi jaminan pada masa depan.

—Nozdormu x Yourbae, 
wordsmith of tea and coffee.

@SebuahRasa