Memandangi manggala di seberang sebuah tripleks, refleksimu merupa cermin konveks. Wijaya aroma kedua cangkir kita menguap hingga ke sanubari, lantas kita berdua tersenyum sendiri. Aksara belum mampu bertakhta, tetapi bahumu telah memberi isyarat sebagai penyangga.
Luka-luka yang kerap menganga di dada kini lupus bersama dengan tawa-tawa yang tercipta antara kita. Sedih-sedih yang terseduh dalam pedih, kini mendidihkan bahagia-bahagia yang bernama kita.
Untuk sejenak, kita memasuki momentum yang tiada tara. Sama seperti dulu, saat masih eksis tabularasa. Kini telah pupus sengsara, kini telah tumbuh sukacita. Merengkuh kapas jenjam, kita saling menarik praduga masing-masing, berharap membalut lebam. Seakan kondisi trans ini melampaui kodrat semesta, seakan ada dua insan yang tereinkarnasi setelah melintasi roda moksa.
Untuk sejenak, kita tinggalkan segala luka. Bermain bersama aksara nyata yang menghadrikan nama-nama bahagia. Menuliskan puisi-puisi pada malam yang bertemakan kita. Melampaui semesta agar tercipta dua nama yang terngiang di telinga.
harapku hanya kita tampa ada dia
Hidup untuk hari ini, sejenak saja, tanpa menghiraukan rongrongan masa lalu dan delikan masa depan. Biarkan manis dan pahit menjelma sintesa yang sempurna pada kulminasinya. Lihatlah dalam cangkir kita; refleksi kita yang mencolok, buram, dan penuh luka. Sebelanga cerca dan inca-binca telah mencakar kita bertubi-tubi; pada akhirnya, kita merasa kekurangan sesuatu. Kita dahulu mungkin hanya orang dewasa yang melindungi anak kecil dalam diri kita. Sekali lagi, kalbuku bagai terangkat ke atas dirgantara, sebab kaulah perantara.
Dalam diam, dua aroma ini mengulurkan sulur menuju kedua hati yang berdebu, seraya memberi konklusi pada kita bahwa manis dan pahit akan selalu bersisian dalam segala kesempatan. Membuat kita paham arti hidup sebenarnya; seperti menerima keadaan dan ketiadaan. Pada momen itu, tanpa sadar, kedua sulur perasaan kita saling menjalin ikatan; agaknya memberi jaminan pada masa depan.
—Nozdormu x Yourbae,
wordsmith of tea and coffee.
@SebuahRasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar